Manusia Gagal Karena Enggan Berubah Menjadi Lebih Baik
Manusia akan terporosok dan gagal ketika dia tidak mau berubah menjadi lebih baik. Kalau dia tidak mengambil sikap perubahan, maka dengan lingkungan sebaik apapun atau sistem peraturan seketat apapun, mungkin dia tetap tidak akan berubah dengan menganggap peraturannya terlalu pahit atau lingkungannya sok suci.
Bukan peraturannya terlalu pahit ataupun lingkungannya yang sok suci, akan tetapi hakikat jiwa kitalah yang terlalu kotor. Bukankah ini alasan yang sama diucapkan oleh kaum nabi Luth ketika tidak mau berubah di saat nasihat datang?! Allah ta’ala berfirman:
{ وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوۡمِهِۦۤ إِلَّاۤ أَن قَالُوۤا۟ أَخۡرِجُوهُم مِّن قَرۡیَتِكُمۡۖ إِنَّهُمۡ أُنَاسࣱ یَتَطَهَّرُونَ }
[Surat Al-A'raf: 82]
“Dan tidaklah jawaban kaum nabi Luth kecuali mereka mengatakan ‘keluarkanlah Luth dan pengikutnya dari kampung kalian. Sesungguhnya mereka adalah manusia yang sok suci’” [Surat Al-A’raf: 82]
Ketika seseorang terlalu lelet dan tidak mau berubah, maka nasab sebaik apapun dan lingkungan sebersih apapun, dia akan tetap gagal. Bukankah nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
ﻭﻣﻦ ﺑﻄﺄ ﺑﻪ ﻋﻤﻠﻪ، ﻟﻢ ﻳﺴﺮﻉ ﺑﻪ ﻧﺴﺒﻪ
"Dan barangsiapa yang amalnya lambat, maka nasabnya tidak akan bisa mempercepatnya” (HR. Muslim no. 2699)
Berarti, kitalah yang harus berubah menjadi lebih baik. Dan setiap manusia tertuntut untuk mempercepat perubahan di dalam dirinya ke arah yang lebih diridhai Allah.
Kalaupun Fatimah radhiyallahu anha adalah seorang yang lambat amalnya -dan itu mustahil-, maka nasabnya pun tidak akan bisa merubahnya untuk menjadi lebih baik seandainya perubahan itu tidak muncul dari diri Fatimah. Maka, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
ﻳﺎ ﻓﺎﻃﻤﺔ ﺑﻨﺖ ﻣﺤﻤﺪ ﺳﻠﻴﻨﻲ ﻣﺎ ﺷﺌﺖ ﻣﻦ ﻣﺎﻟﻲ ﻻ ﺃﻏﻨﻲ ﻋﻨﻚ ﻣﻦ اﻟﻠﻪ ﺷﻴﺌﺎ
"Wahai Fathimah bintu Muhammad, mintalah kepada saya apa yang engkau mau dari harta saya. Sesungguhnya saya tidak bisa menyelamatkan engkau sedikitpun dari adzab Allah” (HR. Bukhari no. 4771 dan Muslim no. 206)
Kalau nasab nabi tidak bisa mempercepat amal Fatimah, maka jangan harap kita bisa menjadi lebih baik kalau sebenarnya kita lah yang tidak mengambil sikap perubahan.
Bahkan, kalaupun Fatimah mencuri, nabi shallallahu alaihi wa sallam pun tidak bisa menyelamatkannya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
ﻭاﻳﻢ اﻟﻠﻪ ﻟﻮ ﺃﻥ ﻓﺎﻃﻤﺔ ﺑﻨﺖ ﻣﺤﻤﺪ ﺳﺮﻗﺖ ﻟﻘﻄﻌﺖ ﻳﺪﻫﺎ
"Demi Allah, seandainya Fatimah bintu Muhammad mencuri, niscaya aku yang akan memotong tangannya” (HR. Bukhari Muslim)
Intinya, kita bisa keluar dari kegagalan ketika diri kita sendirilah yang ingin keluar dari kegagalan itu. Dan itu harus ada tekad kuat dari dalam jiwa. Allah berfirman:
{ إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُغَیِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ یُغَیِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ }
[Surat Ar-Ra'd: 11]
"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib sebuah kaum, sampai mereka sendirilah yang merubah apa saja yang ada di dalam diri-diri mereka) [QS. Ar-Ra’d: 11]
Intinya apa? Berusahalah untuk berubah menjadi lebih baik dan tekadkan dari jiwa yang paling dalam.
Semoga bermanfaat, wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.
Abdurrahman Al-Amiry

0 komentar:
Posting Komentar